AI sebagai Teman Curhat Pengganti Psikolog MERUPAKAN ARTIKEL KE-3 yang saya tulis sebagai penulis tamu di Blog Hipnoeterapi Indonesia IAIH :
Halooo semuanya bertemu lagi dengan saya Psikolog Nisa (Psikolog Umum) dari Laya Vara Consulting. Hari ini kita akan membahas sebuah topik terkait ‘’AI sebagai Teman Curhat Pengganti Psikolog’’. Sebelum memilih topik ini untuk dibahas, saya sempat kepikiran untuk membahas topik lainnya seperti ‘’Kesepian pada seseorang yang aktif bermain media sosial’’, maupun topik ‘’People Pleaser yang berujung tidak asertif’’. Namun mengapa akhirnya saya memilih topik ‘’AI sebagai Teman Curhat Pengganti Psikolog’’ untuk dibahas di artikel? Karena tak jarang orang-orang saat ini mengaku bahwa mereka sering curhat kepada AI, berbagai macam jenis AI. Kemudian mereka bertanya kepada saya apakah curhat kepada AI itu aman dan tidak apa-apa untuk kesehatan mental? Nah terkait dengan hal ini akan kita kupas tuntas satu persatu yaa teman-teman.
Dalam beberapa waktu terakhir yang dimulai sejak tahun
2024 hingga saat ini, kecerdasan buatan atau yang lebih familiar disebut
sebagai AI (Artificial Intelligence) telah menjadi bagian yang tak terlepas
dari kehidupan manusia. Tak jarang AI selalu dilibatkan untuk berbagai
kepentingan manusia, seperti membantu menyelesaikan pekerjaan atau tugas,
mencari jawaban, membuat gambar, dll. Akan tetapi tak jarang juga AI digunakan
sebagai wadah seseorang untuk mengungkapkan perasaannya, menceritakan
permasalahannya, meminta AI untuk memberikan saran terkait permasalahannya,
ataupun hanya sekedar pelampiasan sebagai ‘’Teman Mengobrol’’ saat sedang
merasa kesepian. Lalu apakah AI dapat menggantikan peran psikolog? Jawabannya
perlu kita analisis terlebih dahulu bagaimana cara AI maupun psikolog untuk
memberikan fasilitas terapeutik kepada klien.
Beberapa orang mengatakan bahwa mereka merasa overthinking
jika curhat kepada psikolog, karena takut mendapatkan judgement dari
psikolognya, hal ini didasari oleh pengalaman mereka yang pernah berkonsultasi
langsung dengan psikolog. Lalu alasan lainnya takut karena asumsi mereka
terkait apapun yang dikatakan oleh psikolog sudah pasti selalu benar, sehingga
mereka takut untuk mendapatkan suatu penilaian. Kemudian mereka juga takut
mendapatkan judgement, kebanyakan orang menilai bahwa curhat di AI tidak
terbatas oleh rasa malu, segan, dan sungkan. Lalu pertimbangan untuk curhat
dengan AI juga didasari oleh waktu, dengan adanya AI mereka dapat currhat di
manapun, kapanpun, dan bagaimana pun. Mereka dapat curhat di tengah malam saat
merasakan overthinking, curhat di waktu yang mendadak, tidak seperti curhat di
psikolog yang harus appointment jadwal konseling terlebih dahulu. Selain
itu adanya pertimbangan dari segi murah dan tidak perlu membayar seperti pergi
ke psikolog. Saat seseorang curhat melalui AI, dapat diketahui bahwa AI memang
dapat membantu memvalidasi perasaan seseorang. Akan tetapi perlu diketahui jika
cara kerja AI didasari oleh tata bahasa dan informasi yang telah ia pelajari.
AI tidak memiliki perasaaan, sehingga tidak adanya respon emosional seperti
manusia saat AI menanggapi curhat dari berbagai orang.
Adanya respon emosional yang diberikan oleh psikolog
tentu memberikan dampak yang berbeda kepada orang yang berkonsultasi dengan AI.
Psikolog dapat memberikan penanganan yang tepat untuk klien, tidak hanya dengan
menggunakan konseling saja, akan tetapi juga dengan berbagai psikoterapi.
Psikolog juga mengetahui bahwa konseling saja belum tentu efektif untuk klien,
psikolog juga dapat mengidentifikasi penanganan yang diberikan pada klien akan
lebih efektif jika ditambahkan psikoterapi. Psikoterapi hanya dapat diberikan
oleh psikolog, dan tentunya tidak dapat diberikan oleh AI. Tak jarang jika
kebanyakan orang menjadi ketergantungan emosional kepada AI, namun AI tidak
dapat memfasilitasi hal tersebut. Disinilah keunggulan psikolog sebagai seorang
profesional, yang tentunya lebih mampu memberikan penanganan dengan respon emosional.
Respon emosional yang diberikan oleh psikolog kepada klien dengan berbagai
pendekatan yang tidak dilakukan oleh AI.
Memang benar jika AI dapat memvalidasi perasaan
seseorang, namun tidak adanya respon emosional yang diberikan selain validasi
perasaan saja. Selain itu dengan curhat kepada AI juga berdampak pada
komunikasi dan relasi sosial setiap orang yang menggunakannya, hal ini
dikarenakan ketika berkomunikasi dengan sesama manusia maka disanalah kita juga
memiliki kesempatan untuk memperoleh dukungan sosial yang tentu juga tidak bisa
diberikan oleh AI. Dukungan sosial merupakan sesuatu yang penting bagi kesehatan
mental kita. Karena dengan adanya respons yang diberikan berupa verbal,
ekspresi wajah, gesture tubuh, dan intonasi suara yang lagi-lagi juga
berhubungan dengan respon emosional yang tidak dapat diberikan dan digantikan
oleh AI. Dukungan sosial dapat kita peroleh dari setiap orang, seperti
psikolog, keluarga, teman, sahabat, dan juga pasangan kita.
Saat ini merupakan era serba digital, zaman yang
menggunakan berbagai macam teknologi dalam membantu kegiatan apapun di keseharian
kita. Era digital tentunya berpengaruh dan memiliki peluang yang banyak dalam
meningkatkan akses terkait informasi kesehatan mental. Hal ini tentunya
berdampak positif bagi kita semua agar mendapat edukasi yang tentu dapat
diaplikasikan dalam sehari-hari. Edukasi terkait kesehatan mental saat ini
lebih berkembang pesat dari pada zaman dulu. Inilah yang menyebabkan kesehatan
mental pada zaman dahulu sebagai hal yang tabu dan selalu dikaitkan dengan
kurang beribadah kepada Tuhan YME. Orang-orang saat ini lebih peduli dengan
kesehatan mentalnya, sehingga mengikuti perkembangan zaman mereka pun
menggunakan AI sebagai media curhat pengganti peran psikolog saat konseling. Namun
kita semua tetap harus membatasi bahwa adanya batasan antara AI dengan psikolog
sebagai profesional di kesehatan mental.
Dengan adanya hal itu, diharapkan agar masing-masing
dari kita menjadi lebih bijak dan tidak memiliki ekspetasi yang lebih kepada
AI. AI lebih tepat jika digunakan sebagai media dalam menjaga kesehatan mental
melalui berbagai edukasi. Oleh karena itu, AI tidak dapat menggantikan peran
psikolog. Selain itu kita dapat meminta AI untuk membuat kerangka worksheet,
panduan refleksi diri maupun kerangka to do lists journalling,
yang dapat kita isikan nantinya saat melakukan journalling setiap hari
dengan konsisten. Dengan adanya tools-tools sederhana yang dibuat oleh
AI ini, selain membantu untuk menjaga kesehatan mental juga membuat kita
pelan-pelan semakin mengenali diri kita. Namun jika masih merasa tidak nyaman, butuh
bantuan untuk menguraikan masalah, solusi, validasi, maupun emosi yang tidak
terkontrol, maka dianjurkan untuk langsung menghubungi psikolog secara langsung
dan tidak denial terkait sesuatu yang kita rasakan. Karena jika kita
menunda maupun denial maka juga akan menambah isi tangki emosi di diri
kita yang dampaknya dirasakan pada psikologis dan fisik.
Masih jaman bingung untuk mencari profesional di bidang kesehatan mental? Ingin mendapatkan sesi bersama psikolog dan hipnoterapis dalam satu layanan? Laya Vara Consulting solusinya, karena teman-teman dapat ditangani oleh psikolog sekaligus hipnoterapis. Kemudian teman-teman dapat mengambil sesi konseling saja, sesi hipnoterapi saja, maupun bundle (paket) sesi konseling + hipnoterapi sekaligus loh. Selain itu kami juga menyediakan screening kesehatan mental bagi teman-teman yang ingin mengetahui keadaan kesehatan mentalnya saat ini. Layanan kami dapat dilakukan baik secara online maupun secara offline, setiap hari senin – minggu dari pukul 08.00 – 22.00 WIB. Kami dapat melakukan layanan by online via telfon, video call dan google meet/zoom, maupun offline datang ke lokasi Laya Vara Consulting maupun home visit ke rumah teman-teman di DIY dan sekitarnya. Lokasi Laya Vara Consulting di Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya di Bantul. Info lebih lanjut teman-teman dapat menghubungi ke Whatsapp: 0882-0093-98888, Instagram: @layavara.id, dan tiktok @layavara.id.
Whatsapp: 0882-0093-98888
Instagram & Tiktok: @layavara.id

