-->

THE SOUL OF TRAINING

| 8:03:00 AM |

 

Training sering dimaknai sebagai upaya penanaman dan pembiasaan skill tertentu. Sounds fun, right?


Itu benar, tapi pemahaman itu lebih menunjukkan akibat dan hasil dari proses training ketimbang menceritakan inti dari proses training. Itu adalah pengertian yang lebih mencerminkan lag measures.


Bagaimana dengan lead measures-nya?


Sebelum sampai ke titik yang disebut dengan "kompeten" atau "skillful" atau "highly perform", apa yang ada adalah: masalah, kesulitan, tantangan, hambatan, kebutaan, ketidaktahuan, kesalahkaprahan, ketidak-konsistenan, masalah dan problem, unfavourable facts, rasa sakit, kekurangan, kelemahan... dan seterusnya.


Maka, pada training sebagai sebuah proses pemberdayaan, jiwa sesungguhnya adalah:


"Respond to adversities in the proper ways."


Alias merespon seluruh situasi dan keadaan pra-ahli atau pra-terampil di atas dengan cara yang tepat. Jadi, bukan hanya "tahu cara yang tepat", lebih dari itu, "mampu melakukan respon yang tepat (idealnya: setiap kali)". Itulah yang diulang-ulang, ditanamkan dan dibiasakan.


Dalam konteks technical skills atau physical skills, penjiwaan di atas cukup mudah dimengerti; bahwa training adalah proses dan situasi yang bertekanan, dan tak jarang "berdarah-darah".


Bagaimana dengan mental skills sebagaimana yang sering disebut "soft skills"?



❤️๐Ÿ‘๐Ÿ’ช๐Ÿ™

SPONSORSHIP

Back to Top