-->
Showing posts with label Leadership is state of Mind. Show all posts
Showing posts with label Leadership is state of Mind. Show all posts

Every leadership is self-leadership.

 OLEH-OLEH LIFE DISRUPTION XIII

"Dari orang, menjadi manusia, menjadi binatang"


Seperti biasanya, kurikulum pembelajaran Life Disruption dibuat on the spot. Ini dilakukan di sesi awal di mana para peserta diminta memperkenalkan diri dan mereka diminta menyampaikan harapan dan target belajar mereka; apa yang ingin dipelajari, apa yang ingin mereka ketahui, kuasai atau pahami untuk bersama-sama kami bawa pulang sebagai bahan pembelajaran, pengetahuan, keterampilan, inspirasi atau solusi bagi hidup kami sendiri.


Dari proses intake itu, kali ini kami sebagai tim penyaji menyimpulkan bahwasanya salah satu materi yang perlu kami sharing adalah "leadership". Maka setelah sesi awal itu, saat peserta bersiap-siap dan berbenah, mulailah kami meramu materi dalam cara yang khas Life Disruption, yaitu dengan pola-pola reverse engineering atau dekonstruksi, sembari mengunyah makanan ringan, minum kopi, hahahihi atau merokok.


Sampai hari ini, rata-rata kita memahami leadership sebagai sebuah fenomena yang identik dengan tiga hal yaitu "doing the right things", "influence" dan "followers".


Sudut pandang itu, adalah sudut pandang yang disosiatif di mana kita melihat seorang leader dengan tiga karakterisasi itu. Begitulah cara kita secara obyektif memahami fenomena leadership.


Pertanyaannya, jika kita memandang orang itu sebagai seorang leader, maka bagaimana dengan kita sebagai pihak yang memandang leader itu? Apakah kita leader? Demi clarity, jawabannya adalah "bukan". Dalam konteks disosiatif seperti itu, kita hanyalah pengamat. Sedekat-dekatnya, kita bahkan mungkin hanya follower dari leader itu.


Maka, menyelami kesejatian leadership, tidak bisa tidak harus dilakukan lewat kacamata sang leader itu sendiri. Dengan cara yang asosiatif. Kita harus menyelami state of mind dari sang leader.


Menariknya, sebagai leader, sang leader itu berkepentingan dengan dan berfokus hanya pada "doing the right things". That's it; "influence dan followers" bukanlah leadership baginya. Keduanya, hanyalah akibat dan hasil dari kepemimpinannya. Setiap leadership adalah self-leadership. Leadership adalah state of mind.


Lantas, bagaimana ceritanya influence dan followers menjadi identik dengan leadership?


Sejarah peradaban telah membuktikan, bahwa manusia adalah makhluk sosial yang bergerak dari peradaban "hunter and gatherer" menjadi "farmer and forager" menjadi "civilization".


Semua transformasi itu adalah demi "memuliakan dan mensejahterakan kemanusiaan" (katanya). Dan di antara ciri penting dari proses evolusi itu, adalah berkembangnya linguistik dan ilmu komunikasi.


Begitulah, leadership pada akhirnya menjadi identik dengan influence dan followers yang kemudian menjadi identik pula dengan "ilmu komunikasi" - untuk memengaruhi dan untuk membangun pengikut.


Sejalan dengan itu, transformasi peradaban untuk memuliakan dan mensejahterakan kemanusiaan, menginti pada satu hal, yaitu untuk meminimalisir atau bahkan mengeliminasi sisi kebinatangan dari dalam diri manusia.


Bagaimana faktanya hari ini? Urusan Rusia-Ukraina adalah contoh nyata. Contoh nyata bahwa menghilangkan sisi kebinatangan dari dalam diri manusia adalah upaya yang sia-sia. Kemana larinya itu ilmu komunikasi?Definisinya sudah jelas: perang adalah kegagalan komunikasi diplomasi. Hukumnya juga jelas: hukum entropi, yaitu bahwa segala hal bergerak menuju kehancuran di akhir setiap siklus.


Sudah dari sononya, manusia adalah kombinasi dari sifat binatang dan sifat malaikat. Maka, alih-alih menghilangkannya, apa yang terbaik adalah me-utilisasi, memanfaatkan dan mengelola sisi kebinatangan itu untuk kepentingan pemuliaan kemanusiaan itu sendiri. Itulah mestinya yang disebut dengan "syariat" dan "civilization".


Leadership, bukanlah ilmu komunikasi. Leadership, sejatinya adalah ilmu tentang interaksi dan transaksi energi.


Kaum Neanderthal, empat puluh ribu tahun yang lalu, belum mengenal komunikasi dalam bentuk linguistik-kognitif sebagaimana yang kita kenal sekarang. Kenalkah mereka dengan kepemimpinan? Jawabnya, ya. Hari ini, segerombolan serigala atau sekelompok gajah, yang bahasanya jauh berbeda dan lebih primitif dari kita, juga mengenal kepemimpinan dan memiliki pemimpin.


Leadership adalah ilmu tentang keahlian mengelola energi diri sendiri dan kemampuan menginteraksikan dan mentransaksikannya dengan dunia di luar diri. Leadership adalah ilmu tentang merajai kesadaran dan mendominasi diri sendiri. Pengaruh dan pengikut, hanyalah konsekuensi, hasil dan akibat dari kemampuan itu.


Every leadership is self-leadership.

Leadership is a state of mind.


Maka, hari ini kita mengenal konsep Alpha Male atau Leader of The Pack.


Dari orang, menjadi manusia, menjadi binatang.


๐Ÿ’ช❤️๐Ÿ‘๐Ÿ™ Ikhwan Sopa


#LifeDisruption

#NeanderthalEffect

#AlphaMale

#LeaderofThePack

SPONSORSHIP

Back to Top