-->

TSUNAMI ACEH DALAM KENANGAN KH. MAIMOEN ZUBAIR

| 8:01:00 AM |

 

Untuk meningkatkan derajat dan kualitas keimanan seorang hamba, Allah akan mengujinya. Barang siapa yang bersabar atas ujian tersebut, maka akan diangkat derajatnya. Jika tidak demikian, maka akan mendapatkan ancaman dari Allah, bahkan dalam sebuah Hadist Qudsi mereka disuruh untuk mencari tuhan selain Allah. Rasulullah Saw bersabda :


مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِي وَيَصْبِرْ عَلَى بَلائِي فَلْيَلْتَمِسْ رَبًّا سِوَايَ

“Barang siapa yang tidak ridha dengan keputusan-Ku dan tidak pula bersabar dengan ujian-Ku, maka carilah tuhan selain-Ku.” (HR. al-Thabrani)


Umat nabi terdahulu, banyak yang dibinasakan sebab mereka mbalelo, tidak mengindahkan perintah Allah yang dibawa utusan-Nya, seperti kaum ‘Ad dan Samud, sebab sifat mereka yang congkak dan sombang, tidak mau menjalankan perintah utusan Allah, akhirnya Allah mendatangkan hujan belerang dan bumi yang dibalik, dikenal bahrul mayyit, laut mati. Petilasan ini pernah disaksikan Kiai Maimoen Zubair. Ia bercerita bahwa ikan disana tidak dapat hidup. Manusia yang berenang akan terapung. Ini semua merupakan bukti atas kebesaran Allah yang Maha Agung.


Umat Nabi Muhammad Saw berbeda dengan umat nabi terdahulu, yang jika mbalelo maka akan dibinasakan dengan siksa dari atas atau dari bawah. Semuanya telah dikabarkan oleh Nabi Saw sebelumnya, maka bencana-bencana itu bukan sekedar aktifitas-aktifitas alami (geologis) yang (dianggap oleh sementara orang) tidak ada kaitannya dengan kemarahan Allah. Allah berfirman :


قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآَيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ


“Katakanlah: " Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)." (QS. Al-An’am:65)


Kiai Maimoen Zubair mengutip pendapat dari Tafsir Jalalain bahwa yang dimaksud ayat adzâban min fauqikum adalah azab dari langit seperti petir. Maksud ayat au min tahti arjulikum adalah azab seperti kekeringan. Penafsiran dari syiya’an adalah kelompok-kelompok yang nafsunya berbeda-beda. Sedangkan ayat wayudzîqu ba’dukum baksa ba’dhin mempunya arti sebuah peperangan.


Masalah musibah-musibah yang menimpa umat Islam, khususnya Indonesia, terlebih Aceh yang terkena ujian berat berupa gelombang Tsunami yang merenggut nyawa ratusan ribu manusia. Hal ini telah menjadikan perbedaan pendapat antara para ulama. Ada yang mengatakan bahwa itu adalah azab, dan sebagian lagi mengatakan itu musibah.


Banyak sekali pertanyaan yang diajukan oleh segenap saudara-saudara kita mengenai kejadian-kejadian, musibah, fitnah dan sebagai-nya yang menimpa bangsa-bangsa Muslim, khususnya penduduk Indonesia. Hal ini muncul setelah peristiwa musibah besar berupa Tsunami yang menimpa Aceh, daerah dengan penduduk mayoritas Islam, serta yang memiliki hubungan erat dengan sejarah masuknya Islam di Indonesia. Saking kentalnya Aceh dengan Islam, dia diberi julukan oleh Kesultanan Turki sebagai Serambi Makkah.


Peristiwa yang terjadi di abad modern itu kemudian disebut menyerupai apa yang terjadi pada kaum Nabi Hud As, bahkan terkadang ada juga yang menganggapnya lebih dahsyat, yaitu sebuah musibah yang sebelumnya belum pernah terjadi. Beberapa pemikiran, analisa, komentar saling bersaing untuk mencoba mencari jawaban dasar kenapa peristiwa itu terjadi. Ada yang menanyakan, apakah peristiwa itu merupakan azab atau musibah (?) Sampai saat ini orang-orang masih mencoba untuk mencari jawaban yang tepat atas semua peristiwa tersebut. Pada dasarnya, semua kejadian atau musibah itu tidak hanya menimpa pada negeri kita saja, melainkan juga terjadi pada negeri Muslim lainnya. 


Kiai Maimoen Zubair pernah berfikir dan terus berfikir, bertafakkur dan terus bertafakkur, dalam rangka menyelesaikan suatu permasalahan realitas sesuai dengan teks syariat al-Qur’an dan al-Hadits, akan tetapi konteks ini ada beberapa teks keras dalam mendayagunakan pikiran untuk memahaminya, fahman wa fiqhan, dan juga perlu mencoba untuk mengolah batin untuk mendapatkan jawaban yang bersifat haqiqi. Yang jelas, semua peristiwa yang terjadi itu merupakan bentuk ayat (wujud eksistensi) dari beberapa ayat Allah serta kebenaran Rasulullah Saw. Gempa bumi yang terjadi di depan mata kita, tanpa ragu, merupakan ayat Kauniyyah yang nyata, yang menunjukkan kekuasaan Allah dan Dia menakut-nakuti umatnya dengan kejadian itu. Allah berfirman :


وَمَا نُرْسِلُ بِالآيَاتِ إِلا تَخْوِيفًا

“Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.” (QS. Al-Isra : 59)


Menurut Kiai Maimoen bahwa Allah menunjukkan wujud-eksistensi-Nya, adakalanya melalui jalur Sam’iyah dan adakalanya melalui Kauniyah yang nyata serta konkrit dan terlihat oleh mata kita. Pada jalur Sam’iyyah, dijelaskan bahwa Allah menakut-nakuti hamba-Nya dan mereka (para hamba) merenungkan semua itu. Hal ini sebagaimana firman-Nya :


ذَلِكَ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ يَا عِبَادِ فَاتَّقُونِ

“Demikianlah Allah mempertakui hamba-hambaNya dengan adzab itu. Maka bertaqwalah kepada-Ku hai hamba-hambaKu.” (QS. al-Zumar: 16)


Apa yang menimpa umat Islam, seperti Tsunami yang terjadi di Aceh merupakan musibah atau teguran Allah bagi hamba-Nya supaya berbenah diri dan memperbaiki amaliahnya. Kiai Maimoen mengatakan, “Jika seorang hamba sudah tidak mempan dinasehati dengan ayat Quraniyah, maka mereka akan ditegur dengan ayat Kauniyah seperti gempa bumi, tanah longsor, angin, dan banjir. Semua ini mempunyai hikmah bagi hamba yang beriman.” Ia berkata, "Saya benar-benar berharap bahwa segala bencana yang terjadi di depan kita akan memunculkan kebaikan kepada umat kita. Yang demikian itu bisa dibaca dari adanya gerakan-gerakan kebangkitan Islam yang selalu bertahan untuk mensyiarkan syariat-syariat agama, baik secara individu maupun kolektif. Seperti yang dapat kita saksikan, bahwasanya gerakan-gerakan Islam di negara kita semakin maju dan berkembang sedikit demi sedikit ke arah semakin baik. Berbagai madrasah, sekolah keagamaan didirikan, dan mempelajari ilmu agama di sekolah-sekolah negeri atau swasta menjadi materi pokok. Nyaris di setiap sekolah, gedung-gedung dan lembaga pemerintah atau swasta telah ada mushalla. Bangunan (mushalla) dan syiar agama bagaikan spririt dan materi. Semakin sempurnanya syiar agama tersebut tidak lain karena kerja keras aktifis keagamaan dan juga para ulama. Dengan terjadinya bencana-bencana, maka itu semua tidak lain merupakan teguran dari Allah Swt, sekalipun syiar agama telah pesat masuk ke berbagai tempat di negeri ini.”


Ketika terjadi Tsunami di Aceh (26/12/2004), Kiai Maimoen Zubair setelah beberapa hari dari peristiwa tersebut meninjau Aceh untuk melihat kondisi saudara seimannya. Ia menyaksikan bagaimana Allah menampakkan kekuasan dan keadilan-Nya. Masjid Agung Aceh yang didirikan Sultan Aceh (Iskandar Muda) tidak roboh, sedangkan bangunan di kanan kiri semuanya rusak. Ia selalu mengangan-angan peristiwa besar ini. Ia tidak setuju jika Tsunami ini dikatakan azab sebab rakyat Aceh mayoritas beragama Islam, bahkan orang yang Islamnya sangat dahulu dibanding wilayah Indonesia yang lainnya, sehingga ia layak disebut sebagai Serambi Makkah. 


Sekarang genap 18 Tahun, Aceh mengenang tragedy besar, bencana alam (Tsuanami) yang menerjang. Semoga Kota Serambi Makkah semakin diberkahi Allah dalam segala hal. Kiai Maimoen Zubair pernah mengutarakan isi hatinya bahwa dalam musibah yang menimba Aceh ini akan berbuah, membuat Umat Islam di Aceh semakin baik, semakin mendekatkan diri kepada Allah dan menjadi daerah yang baldatun thayyibatun warabbun ghafur.

Semoga Allah mengampuni dosa para syahid dalam bencana Tsunami Aceh. Amin ya rabbal alamin.


Yogyakarta, 26 Desember 2022

Amirul Ulum


Copas Atas Ijin Penulis 






SPONSORSHIP

Back to Top