-->

BOCORAN KURSUS ONLINE 30 HARI MENULIS

“Saya tidak takut pada orang yang berlatih 10.000 tendangan satu kali, tetapi saya takut pada orang yang berlatih hanya satu tendangan 10.000 kali.” - Bruce Lee



 Ini materi terakhir kita. Saya berterima kasih anda telah mengikuti kelas penulisan kalimat selama 30 hari. Saya ingin mengulang harapan yang sudah saya sampaikan: “Semoga ini menjadi pengalaman 30 hari yang menyenangkan dan semoga anda mendapatkan manfaat yang anda inginkan.”


Dan ini hanya pengantar bagi anda untuk meneruskan petualangan anda sendiri dengan penulisan: dengan terus mengupayakan kalimat-kalimat yang memikat pikiran. Kita tidak pernah tahu petualangan ini akan membawa kita ke mana. Dunia penulisan bisa membawa kita ke tempat-tempat yang tidak terduga. Saya sendiri tidak pernah berpikir suatu ketika akan menulis materi-materi tentang penulisan kalimat.


Mula-mula sekali saya hanya ingin tahu bagaimana cara menulis kalimat bagus; itu dorongan yang mulai muncul ketika saya kelas lima SD dan suatu hari pergi ke toko buku untuk membeli kumpulan rumus matematika dan melihat di toko itu dua buku Teknik Mengarang, dua-duanya bersampul kuning, yang satu oleh Mochtar Lubis dan yang satunya saya tidak ingat siapa penulisnya. Saya membeli buku bersampul kuning yang warnanya lebih buram, karangan penulis yang tidak saya ingat namanya itu, sebab harganya enam ratus rupiah dan bukunya lebih tebal. Buku Mochtar Lubis seribu dua ratus rupiah.


Dua bulan berikutnya saya kembali ke toko buku yang sama untuk membeli buku Mochtar Lubis, yang sampulnya kuning terang dan isinya dicetak pada kertas putih, sebab saya kesulitan memahami buku yang saya beli sebelumnya. Saya sudah menamatkan buku buram itu, tetapi tetap tidak mahir mengarang cerita.


Buku Mochtar Lubis ternyata berisi kumpulan tulisan beberapa orang dan tidak membuat saya mahir juga, tetapi ia membawa saya sedikit lebih maju: bagian kedua buku itu berisi cerita pendek dan nukilan novel.


Melalui separuh terakhir buku itulah saya pertama kali berkenalan dengan cerpen Anton Chekhov “Hasil Seni”, cerpen Guy de Maupassant “Pengakuan Istri”, dan cerpen Sommerset Maugham “Si Pintar”, yang bercerita tentang lelaki serba-tahu bernama Mr. Kelada. Nama tokoh ini terus saya ingat karena terdengar seperti nama sayuran dan, yang lebih penting, saya tidak paham di mana bagusnya cerpen itu. Tetapi saya bisa menikmati kejutan Anton Chekhov dan kegilaan Guy de Maupassant.


Satu lagi, kalau ingatan tidak berkhianat, buku itu memperkenalkan saya pada nama Alberto Moravia dan novelnya “Perempuan dari Roma”. Ketika akhirnya bertemu dengan novel itu di toko Kopma UGM pada tahun pertama kuliah, saya merasa bertemu dengan teman lama. Saya membaca novel itu berulang-ulang sampai halamannya lepas-lepas dan penampilannya hancur-hancuran karena sering tertindih saat saya tidur.


Pada tahun itu juga saya membeli buku “Yuk Nulis Cerpen, Yuk” karya Muhammad Diponegoro. Itu buku teknik menulis cerpen yang menurut saya terbaik dalam bahasa Indonesia. Sebelumnya ada buku “Mengarang itu Gampang”, dan kemudian hari saya kenal baik dengan penulisnya Arswendo Atmowiloto, tetapi saya melewatkan buku itu karena tidak percaya bahwa mengarang itu gampang. Sampai sekarang saya tidak percaya bahwa mengarang itu gampang. Tapi itu masalah saya sendiri. Saya tidak ingin menulari siapa pun. Saya hanya ingin menularkan kesungguhan—itu pun jika saya punya sedikit saja kesungguhan.


O, saya melantur pada hari terakhir, mungkin karena kecengengan. Saya membencinya tetapi tidak bisa menghindarinya. Padahal saya cuma ingin mengakui bahwa kelas ini adalah petualangan yang sedikit lebih baik bagi saya ketimbang hanya uring-uringan setiap kali membaca tulisan dengan kalimat-kalimat buruk—setidaknya, menurut saya buruk.


Terima kasih sudah menemani petualangan baru saya. Anda sudah mempercayai saya, bahkan tanpa tahu apa saja yang akan saya sampaikan selama 30 hari. Itu kepercayaan yang akan saya guratkan di permukaan batu.


Mudah-mudahan anda mendapatkan manfaat dari materi-materi yang sudah anda terima. Bahkan seandainya tidak ada satu materi pun yang memberi anda manfaat, saya yakin ada satu yang benar-benar bermanfaat, ialah latihan menyalin setiap hari.


MENYALIN DAN FOKUS PADA SATU KECAKAPAN


Saya sudah menyampaikan, pada materi pertama, apa keuntungan yang anda dapatkan dari berlatih menulis dengan menyalin karya para penulis hebat. Tetapi, kalaupun anda tidak pernah diberi tahu apa kegunaan latihan itu, latihan menulis dengan cara menyalin tetaplah besar manfaatnya. Itu pengalaman saya sendiri. Saya menyalin empat novel ketika SMA, tidak ada yang memberi tahu apa ya gunanya, belum mampu memahami buku-buku teknik menulis yang sudah saya baca, dan saya melakukannya hanya karena berpikir itu lebih menyenangkan ketimbang menyalin dengan mesin tik surat-surat administrasi perkantoran.


Menyalin membuat saya terpikat pada kalimat bagus dan tiba-tiba merasa iri. Tentang rasa iri itu, itu berarti saya punya harapan menjadi penulis bagus, setidaknya menurut tulisan yang saya baca beberapa waktu kemudian. Para penulis bagus, kata tulisan itu, adalah orang-orang yang cemburu pada kalimat-kalimat bagus milik penulis lain.


Dan menyalin memberikan saya perasaan aneh juga. Begitu selesai menyalin “Lelaki Tua dan Laut”, saya menjadi senang membaca tulisan-tulisan tentang Hemingway, dan setiap kali novel “Lelaki Tua dan Laut” disebut-sebut, saya merasa saya juga pernah menulis novel yang sama bagusnya dengan novel Hemingway, judulnya sama juga: “Lelaki Tua dan Laut”.


Jadi, menyalinlah. Itu latihan harian yang bisa anda teruskan meskipun kelas sudah berakhir, dan anda bisa yakin telah mengerjakan latihan tanpa keliru.


Sambil menyalin, berlatihlah satu hal saja terus-menerus sampai betul-betul mahir—bisa tentang tentang metafora saja, atau kalimat kumulatif saja, atau polysyndeton saja, atau berlatih ritme saja dengan kalimat paralel, atau berlatih membuat kalimat puitik saja, atau menggunakan kalimat fragmentaris saja, atau membuat paragraf tanpa ajektif sama sekali, dan lain-lain.


Untuk menguasai kecakapan pertama, misalnya bermetafora, mungkin anda membutuhkan waktu satu bulan fokus pada satu aspek kecakapan itu. Setiap hari anda bermetafora. Pada saat menyalin karya penulis lain, anda pasti akan peka terhadap metafora yang anda jumpai dalam tulisan yang anda salin itu.


Setelah otot-otot metafora anda terbangun sempurna, anda berpindah ke satu aspek lain lagi. Mungkin waktu yang anda butuhkan untuk menguasai kecakapan berikutnya ini lebih cepat ketimbang penguasaan kecakapan pertama; bagaimanapun, anda sudah lebih mahir. Sama dengan ketika anda fokus pada metafora, pada latihan kedua ini, katakanlah anda sengaja berlatih memilih kata, dalam latihan menyalin pun perhatian anda akan dengan sendirinya tertuju pada pemilihan kata-kata pada naskah yang anda salin.


Selanjutnya anda berlatih tanpa ajektif, atau menggunakan ajektif yang memperkuat tulisan, fokus anda pada saat menyalin naskah penulis lain juga pasti akan ke arah pemakaian ajektif pada tulisan itu.


Anda menguasai satu kecakapan saja sudah akan membuat tulisan anda berlipat-lipat lebih bagus ketimbang sebelumnya ketika anda tidak memiliki satu kecakapan pun yang cukup menonjol. Katakanlah anda memiliki satu kecakapan mahir dalam kalimat kumulatif, tulisan anda akan jauh lebih baik ketimbang sebelumnya ketika anda hanya mampu menulis kalimat-kalimat pendek. Dengan kemampuan menulis kalimat kumulatif saja, anda sudah bisa mengatur panjang-pendek kalimat-kalimat dalam paragraf anda.


Anda memiliki kecakapan bermetafora dan membuat perumpamaan, itu kecakapan yang akan membuat tulisan jauh di atas mutu rata-rata. Anda cakap membuat kalimat-kalimat ritmik, itu akan membuat kalimat-kalimat anda lebih merdu ketimbang kalimat para penulis rata-rata,


Sekali lagi, silakan berlatih dan meningkatkan kecakapan menulis dengan cara menyalin tulisan para penulis hebat, setiap hari, ditambah dengan berlatih fokus pada satu demi satu kecakapan sampai anda menjadi mahir pada tiap-tiap kecakapan.


Saya berharap anda mau melakukan “deliberate practice”, memilih salah satu dari materi yang sudah anda pelajari, dan melakukan latihan sengaja untuk menguasai satu kecakapan saja sampai mahir. 

Tulisanku 11 Hari yang lalu : Mimpi Bertemu Nabi Muhammad 

LATIHAN:

1. Siapkan secangkir cokelat panas dan rayakan keberhasilan anda menyelesaikan latihan 30 hari. Tiga puluh materi saya pikir jumlah yang melebihi materi yang anda dapatkan dalam satu semester kuliah penulisan, dan anda masih memiliki kelebihan lain, yaitu sanggup melatih diri setiap hari selama 30 hari.


2. Jika anda bersedia, saya akan senang mendapatkan masukan atau komentar tentang pelatihan ini. Saya ingin pelatihan ini makin baik di waktu-waktu mendatang, Bagaimanapun, kemampuan menyusun kalimat bagus adalah fondasi bagi lahirnya karya-karya bermutu. Kita bisa menaruh harapan baik untuk masa-masa mendatang jika ada banyak orang yang semakin sadar untuk meningkatkan kecakapan menyusun kalimat.

Hipnotis Hipnoterapi Online

Back to Top